Kamu.
Sejak pisah
lewat hening dua tahun lalu, kita tak pernah lagi bersua. Namun kurasa ada yang
kau lupa ambil dariku. Yang mungkin menurutmu tidak penting. Bahkan terlalu
remeh hingga kau tinggalkan begitu saja.
Jejakmu itu
telah membuatku berlindung dalam sendiri. Nyaman dalam hening. Ingin aku
membuangnya saja sedemikian rupa. Sudah kularutkan ke sungai, kubuang ke
belantara, atau kulempar ke angkasa raya, tapi tak ada yang berhasil. Aku juga
bingung, sebetulnya aku yang tolol atau apa. Kenapa kenangan atasmu tak mau
lenyap juga?
Lihat aku
sekarang. Terpogoh dengan kepala yang belagak ditengadahkan. Dengan langkah
yang tersangkut beban. Tersandung-sandung tak karuan. Jangan tanya aku kenapa,
kamu pasti sudah lebih paham. Kalau memang dulu kamu ingin mainkan perasaan,
kuucapkan selamat, kamu sukses membuatku berserakan.
Maka aku
menjebak diri dalam nostalgi. Kadang terlena oleh elegi. Betapa sukarnya hidup
bersama sepi. Sebab aku padamu, kemarin, kini, kelak, kapan pun, tetap menyimpan
rasa. Kuharap kamu berpikir ke arah situ.
*Teruntuk kamu, yang kuingat di Sabtu pagi
hingga membuatku kalap malamnya.

No comments:
Post a Comment